Posted by: salafy on: Januari 16, 2008
Berbagai penganut “aliran sesat” sudah terbiasa menggunakan kiat-kiat untuk mengelabui dan membohongi masyarakat dalam menyebarluaskan paham-pahamnya
Oleh: H.M. Amin Jamaluddin *
Berbagai aliran sesat sudah terbiasa menggunakan kiat-kiat untuk mengelabui dan membohongi masyarakat dalam menyebarluaskan paham-pahamnya. Berbagai kebohongan, pengaburan, dan tipu daya juga seringkali dimunculkan dalam kasus seputar Ahmadiyah. Pada tanggal 3 Januari 2008, Jemaat Ahmadiyah Indonesia berkirim surat berupa “Ringkasan Penjelasan tentang Jemaat Ahmadiyah Indonesia” kepada Azyumardi Azra di kantor Sekretariat Wakil Presiden.
Tulisan ringkas berikut ini merupakan jawaban-jawaban ringkas dan jitu untuk meluruskan beberapa penjelasan kaum Ahmadiyah, seperti dalam surat mereka ke Azyumardi Azra di kantor Wapres tersebut. Berikut ini beberapa penjelasan Ahmadiyah dan jawaban kita. Ahmadiyah mengatakan:
1. “Syahadat kami adalah syahadat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”
Jawab kita:
Kita perlu berhati-hati dan mencermati pengakuan semacam itu. Sejak berdirinya, Jemaat Ahmadiyah sudah mengaburkan makna syahadat, meskipun lafalnya sama dengan syahadat orang Islam. Kaum Ahmadiyah mengklaim bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah juga Muhammad dan Rasul Allah. Simaklah buku Memperbaiki Kesalahan (Eik Ghalthi Ka Izalah), karya Mirza Ghulam Ahmad, yang dialih bahasakan oleh H.S. Yahya Ponto, (terbitan Jamaah Ahmadiyah cab. Bandung, tahun 1993). Di situ tertulis penjelasan terhadap ayat al-Quran berikut ini:
محمد رسول الله والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم …
Dalam buku ini, Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan, siapa yang dimaksud dengan “Muhammad” dalam ayat tersebut, yakni: “Dalam wahyu ini Allah SWT menyebutku Muhammad dan Rasul…(hal. 5).
Jadi, inilah perbedaan keimanan yang sangat mendasar antara Ahmadiyah dengan orang Muslim. Sebab, bagi umat Islam, kata Muhammad dalam syahadat, adalah Nabi Muhammad saw yang lahir di Mekkah, bukan yang lahir di India. Lebih jauh lagi, dikatakan dalam buku ini:
“Dan 20 tahun yang lalu, sebagai tersebut dalam kitab Barahin Ahmadiyah Allah Taala sudah memberikan nama Muhammad dan Ahmad kepadaku, dan menyatakan aku wujud beliau juga.” (Hal. 16-17). “….. Dalam hal ini wujudku tidak ada, yang ada hanyalah Muhammad Musthafa SAW, dan itulah sebabnya aku dinamakan Muhammad dan Ahmad.” (Hal. 25)
Dalam Majalah Bulanan resmi Ahmadiyah “Sinar Islam” edisi 1 Nopember 1985 (Nubuwwah 1364 HS), rubrik “Tadzkirah”, disebutkan:
“Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Brahin Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatku manifestasi dari semua Nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, Aku Seth, Aku Nuh, Aku Ibrahim, Aku Ishaq, Aku Ismail, Aku Ya’qub Aku Yusuf, Aku Musa, Aku Daud, Aku Isa, dan Aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad SAW, yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi. (Haqiqatul Wahyi, h. 72).” (Hal. 11-12)
Sekali lagi, yang menjadi masalah adalah bahwa bagi kaum Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad juga mengaku sebagai Muhammad saw, sebagaimana disebutkan sebelumnya. Bahkan, dalam buku Ajaranku, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Yayasan Wisma Damai, Bogor, cetakan keenam,1993, disebutkan: “….. di dalam syariat Muhammad s.a.w akulah Masih Mau’ud. Oleh karena itu aku menghormati beliau sebagai rekanku …..” (Hal. 14)
Ahmadiyah mengatakan;
2. “Kitab Suci kami hanyalah Al Qur’anul Karim.” Ahmadiyah juga mengatakan, bahwa “Tadzkirah” bukanlah kitab suci mereka, tetapi merupakan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935 (27 tahun setelah Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia tahun 1908).
Jawab kita:
Penjelasan Ahmadiyah ini juga tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam kitab Tadzkirah yang asli tertulis di lembar awalnya kata-kata berikut ini: “TADZKIRAH YA’NI WAHYU MUQODDAS”, artinya TADZKIRAH adalah WAHYU SUCI. Jadi, kaum Ahmadiyah jelas menganggap bahwa kitab Tadzkirah adalah “wahyu yang disucikan”. Karena itu, sangat tidak benar jika mereka tidak mengakuinya sebagai Kitab Suci. Sangat jelas, mereka memiliki kitab suci lain, selain al-Quran, yaitu kitab Tadzkirah.
Tentu saja, umat Islam seluruh dunia menolak dengan tegas, bahwa setelah Nabi Muhammad saw, ada nabi lagi, atau ada orang yang menerima wahyu dari Allah SWT. Dalam buku Apakah Ahmadiyah itu? Karangan HZ. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad disebutkan:
“Hadhrat Masih Mau’ud a.s tampil ke dunia dan dengan lantangnya menyatakan, bahwa Allah Ta’ala bercakap-cakap dengan beliau dan bukan dengan diri beliau saja, bahkan Dia bercakap-cakap dengan orang-orang yang beriman kepada beliau serta mengikuti jejak beliau, mengamalkan pelajaran beliau dan menerima petunjuk beliau. Beliau berturut-turut mengemukakan kepada dunia Kalam Ilahi yang sampai kepada beliau dan menganjurkan kepada para pengikut beliau, agar mereka pun berusaha memperoleh ni’mat serupa itu.” (hal. 63-64).
3. “Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata-kata maupun perbuatan.”
Jawab kita:
Pengakuan kaum Ahmadiyah ini pun nyata-nyata tidak sesuai dengan fakta yang ada pada buku-buku dan terbitan mereka. Dalam buku Amanat Imam Jemaat Ahmadiyah Khalifatul Masih IV Hazrat Mirza Tahir Ahmad Pada Peringatan Seabad Jemaat Ahmadiyah Tahun 1989 terbitan Panita Jalsah Salanah 2001, 2002 Jemaat Ahmadiyah Indonesia, disebutkan:
“Saya bersaksi kepada Tuhan Yang MahaKuasa dan Yang Selamanya Hadir bahwa seruan Ahmadiyah tidak lain melainkan kebenaran. Ahmadiyah adalah Islam dalam bentuknya yang sejati. Keselamatan umat manusia bergantung pada penerimaan agama damai ini.” (Hal. 6)
“Bilakhir, perkenankanlah saya dengan tulus ikhlas mengetuk hati anda sekalian sekali lagi agar sudi menerima seruan Juru Selamat di akhir zaman ini.” (Hal. 10)
Bahkan, Ahmadiyah punya istilah sendiri untuk menamai para pengikut ajarannya, dengan tujuan membedakan diri dari orang-orang Islam lainnya:
Dalam buku Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad – Imam Mahdi dan Masih Mau’ud Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, cetakan kedua, 1995, disebutkan:
“Pada tahun 1901, akan diadakan sensus penduduk di seluruh India. Maka Hazrat Ahmad as. menerbitkan sebuah pengumuman kepada seluruh pengikut beliau untuk mencatatkan diri dalam sensus tersebut sebagai Ahmadi Muslim. Yakni, pada tahun itulah Hazrat Ahmad as. telah menetapkan nama Ahmadi bagi para pengikut beliau as., untuk membedakan diri dari orang-orang Islam lainnya.” (Hal. 47)
Kaum Ahmadiyah juga menyebut, jemaat mereka adalah laksana perahu Nabi Nuh yang menyelamatkan. Yang tidak ikut perahu itu akan tenggelam. Dalam Majalah Bulanan resmi Ahmadiyah “Sinar Islam” edisi 1 Juli 1986 (Wafa 1365 HS), pada salah satu tulisan dengan judul Ahmadiyah Bagaikan Bahtera Nuh Untuk Menyelamatkan Yang Berlayar Dengannya, oleh Hazrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV, dinyatakan:
“Aku ingin menarik perhatian kalian kepada sebuah bahtera lainnya yang telah dibuat di bawah mata Allah dan dengan pengarahanNya. Kalian adalah bahtera itu, yakni Jemaat Ahmadiyah. Masih Mau’ud a.s. diberi petunjuk oleh Allah melalui wahyu yang diterimanya bahwa beliau hendaklah mempersiapkan sebuah Bahtera. Bahtera itu adalah Jemaat Ahmadiyah yang telah mendapat jaminan Allah bahwa barang siapa bergabung dengannya akan dipelihara dari segala kehancuran dan kebinasaan.”.………….
“Ini adalah suatu pelajaran lain yang hendaknya diperhatikan oleh anggota-anggota Jemaat. Sungguh terdapat jaminan keamanan bagi mereka yang menaiki Bahtera Nuh, baik bagi para anggota keluarga Masih Mau’ud a.s. maupun bagi orang-orang yang, meskipun tidak mempunyai hubungan jasmani dengannya, menaiki Bahtera itu dengan jalan mengikuti ajaran beliau”. ………….
“Semoga Allah memberi kemampuan kepada kita untuk melindungi Bahtera ini dengan sebaik-baiknya, dengan ketakwaan dan ketabahan yang sempurna, dan dengan kebenaran yang sempurna – Bahtera yang telah dibina demi keselamatan seluruh dunia. Amin!”. (Hal. 12, 13, 16, 30)
Kesimpulan:
Kita jangan mudah tertipu dengan penjelasan-penjelasan yang tampak indah, padahal, dunia Islam sejak dulu sudah tahu, apa dan bagaimana sebenarnya ajaran Ahmadiyah. Intinya, mereka mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, Isa al-Mau’ud, dan Imam Mahdi. Mereka juga tidak mau bermakmum kepada orang Islam dalam shalat, karena orang Islam tidak mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi.
Jadi, antara Islam dan Ahmadiyah memang ada perbedaan dalam masalah keimanan. Oleh sebab itulah, berbagai fatwa lembaga-lembaga Islam internasional sudah lama menyatakan, bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan. Kita berharap para pejabat dan cendekiawan kita tidak mudah begitu saja menerima penjelasan Ahmadiyah, tanpa melakukan penelitian yang mendalam. Sebab, tanggung jawab mereka bukan saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Kita hanya mengingatkan mereka, tanggung jawab kita masing-masing di hadapan Allah SWT.
Penulis adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam
Pak kiai mau tanya soal pernyataan kiai diatas bahwa: Penjelasan Ahmadiyah ini juga tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam kitab Tadzkirah yang asli tertulis di lembar awalnya kata-kata berikut ini: “TADZKIRAH YA’NI WAHYU MUQODDAS”, artinya TADZKIRAH adalah WAHYU SUCI. Jadi, kaum Ahmadiyah jelas menganggap bahwa kitab Tadzkirah adalah “wahyu yang disucikan”. Karena itu, sangat tidak benar jika mereka tidak mengakuinya sebagai Kitab Suci. Sangat jelas, mereka memiliki kitab suci lain, selain al-Quran, yaitu kitab Tadzkirah.
kalau seperti itu logikanya berarti kita juga punya dua kitab suci ya Pak kiai! bukankah hadits Qudsi juga wahyu suci???
TANGGAPAN
Nah, gimana pak Kiyai?
Tapi kalo kami boleh ikut nimbrung nih,… Hadits Qudsi jelas beda donk, karena hadits Qudsi itu Firman Allah yang disampaikan (diceritakan) oleh Nabi Muhammad lewat hadits beliau yang tidak termasuk Ayat Qur’an…
Nah, kalo kitab TADZKIRAH kan cuman katanya wahyu… padahal setelah Muhammad SAW nggak ada lagi Nabi dan Rasul yang memperoleh wahyu dari Allah.
Jadi pokok masalahnya dari keyakinan Ahmadiyah yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi itu….
Wallahu a’alam
saya ingin sekali berdebat dengan org yg punya situs ini.
krn mereka mentang2 menganggap benar sendiri ajarannya.
pertanyaan saya :
1. apakah setelah Nabi Muhammad wafat Allah berdiam diri saja melihat banyaknya umat Nabi yg tersesat? bagaimana dengan sifat Allah yg Maha Pemberi Petunjuk?
2. apakah anda percaya Allah bisa berbicara? jika tidak, pendapat terserah sepenuhnya kpd yg anda yakini, tapi jika ya, mengapa anda mengingkari orang yg mendapat wahyu dari Allah?
3. apakah anda percaya bahwa Isa Almasih akan turun kembali lagi ke dunia di akhir jaman? jika tidak anda harus mengingkari hadis shahih riwayat Muslim tapi jika ya, dengan bukti apa, anda percaya bahwa yg datang adalah benar2 Nabi Isa as. ?
TANGGAPAN
Maaf, bukan kapasitas kami menjawab beberapa pertanyaan anda. Anda bisa mengontak penulis artikel di atas. Kami memberi kesempatan kepada anda ataupun warga Ahmadiyah lainnya untuk memuat BANTAHAN atas artikel di atas kalau memang ada. Kami akan muat sebagai pertanggung jawaban ilmiah dari pengelola situs ini. Bentuk debat/diskusi seperti ini lebih baik dan lebih elegan… Kami tunggu artikel bantahannya…
Terima Kasih
saya sudah menduga, anda sendiripun tdk bisa menjawab pertanyaan saya alih2 malah mengalihkan pertanyaan (pantas orang syi’i pernah berkata, orang2 wahabi kalau sudah kalah berdebat mereka suka mengalihkan pembicaraan) untuk permasalahan pertanyaan di atas saya akan berusaha segera menjawab dengan sebaik2nya,Insya 4JJ1,
TANGGAPAN
Saudaraku… ternyata andapun termasuk orang yang memvonis dengan “sembrono”. Ketika kami katakan bahwa bukan kapasitas kami menjawab pertanyaan anda, bukan berarti kami (pengelola blog ini) tak mampu menjawab pertanyaan ’semudah” itu. Kami hanya ingin menyerahkannya pada para ulama yang lebih berkompeten.
Insya Allah, pertanyaan ini begitu mudah dijawab oleh seorang yang baru belajar agama sekalipun.
Tapi baiklah, setelah sambil menunggu kiriman artikel bantahan anda, pertanyaan-pertanyaan itu akan kami sebagai berikut:
1. Tentu saja Allah tidak berdiam diri melihat umatnya yang sesat. Allah Maha Pemberi petunjuk dengan Al-Qur’an dan Sunnah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Tidak dengan menurunkan Nabi baru karena Muhammad SAW adalah Nabi terakhir sebagaimana firman-Nya:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…” Al-Ahzab 40).
Juga Firman-Nya:
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmut-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Al Maidah 3).
2. Tentu saja bicara (berkata-kata) adalah salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun dan kami tidak mengingkari adanya manusia yang mendapat wahyu dari Allah. Tapi yang menjadi masalah ketika ada orang stelah Nabi Muhammad, mengaku mendapat wahyu, padahal sebagaimana ayat di atas Muhammad SAW adalah penutup Nabi-Nabi. Jadi bagaimana mungkin Mirja Ghulam mengaku Nabi yang mendapat wahyu? Ini aneh.
3. Tentu kami percaya bahwa Nabi Isa akan turun di akhir jaman ke dunia ini. Dalam Kitab Shahih Muslim diceritakan:
“Ketika Allah telah mengutus al-Masih Ibnu Maryam, maka turunlah ia di menara putih di sebelah timur Damsyiq dengan mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan waras dan za ‘faran, dan kedua telapak tangannya diletakkannya di sayap dua Malaikat; bila ia menundukkan kepala maka menurunlah rambutnya, dan jika diangkatnya kelihatan landai seperti mutiara. Maka tidak ada orang kafirpun yang mencium nafasnya kecuali pasti meninggal dunia, padahal nafasnya itu sejauh mata memandang. Lalu Isa mencari Dajjal hingga menjumpainya di pintu Lodd, lantas dibunuhnya Dajjal. Kemudian Isa datang kepada suatu kaum yang telah dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu Isa mengusap wajah mereka dan memberi tahu mereka tentang derajat mereka di surga.” [Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrothis Sa 'ah, Bab DzikrAd-Dajjal 18: 67-68].
Sementara itu dulu…
Assalamu’alaikum wr wb…
Allah SWT Yang Maha Pemberi Petunjuk, siapa yang telah di beri-Nya HIDAYAH maka tidak ada satupun yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang telah disesatkan-Nya maka tidak ada satupun yang bisa memberinya petunjuk….dan semoga kita senantiasa mendapat HIDAYAH-Nya dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi yang bagaimanapun..amin
sedikit saja yang menyebabkan gundah-gulana dalam hati saya, dalam menyingkapi kejadian2 sekarang ini termasuk tetang aliran AHMADIYYAH,…
saya hanya mengajak mari buka kembali sumber Islam yang sebenarnya…yang merupakan warisan yang ditinggalkan oleh RASULULLAH SAW ” Aku tinggalkan dua perkara yang tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya yaitu “kitabullah (al qur’an) dan as sunnah rasulullah saw”
mari kita buka lagi berdasarkan bimbingan dan pemahaman para pendahulu-pendahulu, ahlul ilmi yang konsisten berpegang teguh kepada keduanya,….
nah, saya rasa tidak di temukan satu ayat pun atau satu hadits pun yang menyatakan bahwa akan turun rasul setelah rasulullah MUHAMMAD saw,…
adapun penerus-penerus beliau, pembela-pembela Islam yang tetap berusaha untuk menegakkan al qur’an was sunnah rasulullah saw walaupun manusia di sekelilingnya mengasingkannya, membencinya bahkan memeranginya…
saya percaya bahwa Allah SWT berbicara tetapi bicaranya Allah tidak seperti bicaranya makhluk, hanya Dia Yang Maha Tahu…
saya percaya akan adanya hari kiamat dan sayapun percaya bahwa akan turun nabi Isa as yang merupakan salah satu dari 10 tanda-tanda datangnya hari kiamat…(HR. Ahmad, muslim..)
tetapi,… Demi Allah yang Mengutus Nabi & Rasul-Nya yang mulia (Muhmmad bin ‘abdullah bin ‘Adul Muthalib) SAW bukan MIRZA GHULAM AHMAD , bahwa tidak ada nabi setelah beliau saw…
meskipun orang itu ‘alim, kelihatan taat, hafidz qur’an, hafidz hadits ahli ibadah….tetapi mengaku sebagai nabi dan rasul bagiku dia dan para pengikutnya adalah sesat,
kalau mau buat agama baru…ya jangan al qur’an dan hadits yang dipakai sebagai dasar dan kitab sucinya dong…dan jangan mengaku Islam dengan embel-embel lainnya…
kalau memang anta Islam hanya lima yang kita ikrarkan sebagai rukunya…
wassalamu’alaikum
saya memang menunggu2 jawaban anda sebelum saya menjawab pertanyaan saya ( istilahnya menunggu datangnya bola) dalam hal ini saya akan mengembalikan jawaban anda dulu :
untuk pertanyaan pertama saya anda jawab 1. Tentu saja Allah tidak berdiam diri melihat umatnya yang sesat. Allah Maha Pemberi petunjuk dengan Al-Qur’an dan Sunnah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Tidak dengan menurunkan Nabi baru karena Muhammad SAW adalah Nabi terakhir sebagaimana firman-Nya:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…” Al-Ahzab 40).
Juga Firman-Nya:
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmut-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Al Maidah 3).
intinya anda mengembalikan semua masalah pada Al-Quran dan hadist,,,
tentu saja hal ini saya setujui tetapi yg mendi permasalahan adalah yg anda maksudkan itu Al-Quran terjemahan siapa? hadist riwayat mana?
tentu anda TIDAK DAPAT MENOLAK FAKTA bahwa Islam terpecah belah dan menjadi morat marit nggak karu-karuan krn masing2 aliran berbeda pendapat mengenai masalah penterjemahan Al Quran kan? masing2 saling membenarkan ajarannya sendiri dan menyalahkan yg lain (contoh; sunni vs syiah , wahabi vs sufi , ldii vs nu , khawarij vs mu’tazillah , deobandi vs barelwi , dll , dll ) tentu anda setuju juga kan bahwa kaum diatas yg saya sebutkan namanya yg notabene saling mengkafirkan dan mensyirikan satu sama lain justru berpegangan pada Al Quran dan hadist yg sama (bagaimana ini bisa terjadi???????)
jika anda tetap berpegang teguh pd jawaban anda diatas,, maka saya hanya bisa membuktikan fakta di lapangan (Apakah Allah benar2 sudah memberi petunjuk kepada mereka???)
renungkan jawaban anda dengan pertanyaan saya ini :
“mengapa Allah perlu mengutus seorang Nabi???
tentang surat Al Ahzab anda jgn terpaku pada konteks bentuk bakunya saja karena arti kata KHATAM bisa berarti jg cincin, stempel/cap/materai , dan terakhir
hal ini terjadi jg pd surat Al kahfi yg menceritakan Iskandar Zulkarnain diberitahu di danau tempat terbenamnya matahari (SYAM)
jika arti SYAM ini anda makan mentah2 artinya matahari, maka yg namanya Islam akan kalah dengan ilmu pengetahuan (nauzubillah)
jd anda seharusnya mempelajari Islam dari orang yg dibimbing langsung oleh Allah agar Islam menjadi wadah ukhuwah yg kuat dan tidak tergoyahkan (terpecah belah) dan akan selalu mendapat pertolongan dari Allah karena Islam yg sempurna, datangnya langsung dari Allah melalui seorang utusan,,,,,
tentang pernyataan anda yg ke 2 dn seterusnya serta tanggapan dari sodara muhammad as sajudin akan sy jwb besok Insya 4JJ1
TANGGAPAN
Melihat tanggapan anda di tas, jelaslah bahwa pola pikir kita tidak sama. Kami berusaha mengikuti salafushshalaih, yakni penafsiran Rasulullah SAW, Para Shahabat dan ulama yang mengikut beliau. Sedangkan anda memiliki pola pikir yang berbeda. Kami ajak anda mengikuti Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW pun masih anda tanyakan: “yg anda maksudkan itu Al-Quran terjemahan siapa? hadist riwayat mana?”
Jika anda mengungkit-ungkit perselisihan antara beberapa madzhab atau firqah, maka itu memang sudah sunatullah. Memangnya setelah kedatangan nabi versi anda (Mirza Ghulam) umat menjadi lebih bersatu?
Rasanya, dengan ukuran kebenaran yang berbeda diskusi ini hanya akan membuang energi. Apalagi sepertinya anda menggugat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah yang telah kami yakini kebenarannya. Jadi, jelas jika kitab suci kita beda maka agama kita juga beda. Kalu sudah mengimani Nabi di luar Nabi Muhammad SAW, ya berarti bukan Islam. Cukup adil kan jika anda jangan mengaku Islam? Karena jika tidak membawa-bawa Islam, tentu para ulama Islam tak akan mempermasalahkan kalian. Lagi pula masih banyak kesibukan kami yang menunggu untuk dikerjakan.
Karenanya, mohon maaf jika kami tidak melayani perdebatan ini selanjutnya.
Sekali lagi bukan karena kami tidak berani atau tidak bisa menjawab syubhat-syubhat anda. Tapi kami rasa masih ada ulama yang lebih berkompeten menjawab gairah anda untuk bermujadalah…
Allah a’alam
tentang pernyataan anda yg kedua anda menulis :
2. Tentu saja bicara (berkata-kata) adalah salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun dan kami tidak mengingkari adanya manusia yang mendapat wahyu dari Allah. Tapi yang menjadi masalah ketika ada orang stelah Nabi Muhammad, mengaku mendapat wahyu, padahal sebagaimana ayat di atas Muhammad SAW adalah penutup Nabi-Nabi. Jadi bagaimana mungkin Mirja Ghulam mengaku Nabi yang mendapat wahyu? Ini aneh.
anda mengatakan orang yg mendapat wahyu adalah aneh ? anda ini keliatannya hny terpaku pd pendapat org banyak, tnp keadaan di selidiki terlebih dahulu, seandainya anda adalah orang yg punya sifat seperti itu ada kemungkinan jg bila anda hidup di jaman Nabi dulu anda akan menganggap Muhammad itu orang yg aneh “!??” (bukankah disekitar beliau waktu itu rata2 orang2nya jg berkata demikian???)
seandainya toh arti KHATAM adalah ‘terakhir’ (walaupun kami mengartikannya lebih luas) coba anda cari ( di Al Quran / hadist) kapan Allah mengatakan WAHYUNYA YG TERAKHIR turun pada Nabi Muhammad???
hal ini harus anda bedakan antara NABI TERAKHIR dengan WAHYU TERAKHIR,,,,,,??????
krn jika anda katakan WAHYU TERAKHIR turun pada Nabi Muhammad saja,. ANDA HARUS BERANI MENGATAKAN : “SIFAT ALLAH YG MAHA PEMBERI PETUNJUK DAN MAHA BERBICARA ADA BATASNYA” !???
(nauzubillah)
tentang pertanyaan 3 anda menjawab :
3. Tentu kami percaya bahwa Nabi Isa akan turun di akhir jaman ke dunia ini. Dalam Kitab Shahih Muslim diceritakan:
“Ketika Allah telah mengutus al-Masih Ibnu Maryam, maka turunlah ia di menara putih di sebelah timur Damsyiq dengan mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan waras dan za ‘faran, dan kedua telapak tangannya diletakkannya di sayap dua Malaikat; bila ia menundukkan kepala maka menurunlah rambutnya, dan jika diangkatnya kelihatan landai seperti mutiara. Maka tidak ada orang kafirpun yang mencium nafasnya kecuali pasti meninggal dunia, padahal nafasnya itu sejauh mata memandang. Lalu Isa mencari Dajjal hingga menjumpainya di pintu Lodd, lantas dibunuhnya Dajjal. Kemudian Isa datang kepada suatu kaum yang telah dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu Isa mengusap wajah mereka dan memberi tahu mereka tentang derajat mereka di surga.” [Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrothis Sa ‘ah, Bab DzikrAd-Dajjal 18: 67-68].
anda hrs mengerti makna tersirat hadist diatas (jgn langsung asal menafsirkan…) krn jika anda langsung ASAL menafsirkan, anda akan bnyk menjumpai hadist yg bertentangan antara 1 dgn yg lainnya,,,
contoh hadist yg tersirat adalah tentang ciri2 dajjal :
matanya buta sebelah, terdapat tulisan KA-FA-RA diantara alis /matanya, dll, dll
jika anda ASAL menafsirkan hadist di atas tentunya akan banyak muslim yg selamat dari fitnah dajjal (krn mereka sudah tau ciri2nya) padahal dlm hadist disebutkan justru banyak orang muslim yg kena fitnahnya dajjal???
untuk bpk MUHAMMAD AS SAJIDIN saya akan membuat pertanyaan psikologis kpd bapak sebelum saya jwb pertanyaan bpk,,,,
“suatu hari anda melihat suatu rumah terbakar (sampai2 tidak ada 1 pendudukpun yg berani mendekatinya) kata penduduk2 di luar di dalam rumah tsb ada bayi yg baru lahir dan sebuah benda tak ternilai harganya (dan tidak ada 2 nya di dunia ini). Pertanyaan saya, apabila bpk tergerak hatinya untuk masuk rumah yg terbakar tersebut siapakah yg bapak pilih untuk bpk selamatkan,, sang bayi ataukah benda yg tak ternilai hrgnya tsb??? (hrp sebutkan beserta alasannya)”
itu dulu dr saya smg bermanfaat ,,,
wassalamu’alaikum
benar juga,anda2 ini akhirnya menyimpulkan kami ini bukan bagian dari Islam malah2 jg memfitnah kami dengan mengatakan kami punya kitab suci sendiri hanya gara2 kami percaya ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad,,,
PADAHAL dari tulisan anda, ANDA SENDIRI MEMPERCAYAI “”NABI”" ISA AKAN TURUN LAGI KE DUNIA “”SETELAH”" NABI MUHAMMAD???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
Januari 31, 2008 pada 2:13 am
Benar-benar kontradiktif dengan apa2 yang saya baca tentang Ahmadiyah. Di satu sisi, saya mendapati beberapa tulisan tentang Ahmadiyah yang sebetulnya tidak sama dengan yang Anda tulis di postingan ini. Namun, statistik yang mengemukakan argumen dan bukti serta dugaan kuat tentang kebohongan Ahmadiyah seperti tulisan Anda ini juga tidak sedikit saya dapatkan.
Okelah, taruh saja Ahmadiyah keluar dari mainstream Islam. Namun hendaknya kita tidak melakukan aksi anarkis atas nama agama. Kita bersikap inklusif saja. Selama mereka tidak mencederai nilai-nilai sosial-kemasyarakatan lebih luas, kita terima mereka sebagai sebuah komunitas kecil. Selebihnya, urusan paradigma keagamaan mereka, biar Allah kelak yang memberi keputusan. Toh, kita hanya bisa memberi peringatan saja. Tidak lebih…