salafy

Berhati-hati dengan “Salam”

Posted by: salafy on: Januari 20, 2008

Mungkin karena kesibukan, diantara kita sering menyingkat ucapan “salam” yang arti awalnya doa keselamatan justru menjadi “cacian” dan kata “jorok”. Lho bagaimana bisa?

Hidayatullah.com–Ucapan ”Assalamu’alaikum”, السلام عليكم, merupakan anjuran agama, dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendo’akan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR Muslim dari Abi Hurairah]

Saya seringkali menerima sms atau e-mail dari beberapa kawan dan juga beberapa ustadz yang mengawali salamnya dengan singkatan. Singkatannya pun macam-macam. Ada yang singkat seperti “Asw” atau “Aslm“. Ada yang sedikit lebih panjang seperti ; “Ass Wr Wb” atau “Aslmwrwb” .  Namun yang  sering saya dapatkan, adalah singkatan “Ass“. Singkatan terakhir ini paling umum dan paling sering digunakan. Bagi saya, ini adalah singkatan yang tidak enak untuk dibaca, terlebih kalau mengerti artinya.

Marilah kita simak singkatan ini. Dalam kamus linguistik yang saya punya, arti dari kata Ass yang berasal dari bahasa Inggris itu adalah sebagai berikut;

“Ass” berarti: Pertama, kb. (animal) yang artinya keledai. Kedua, orang yang bodoh. Don’t be a silly (Janganlah sebodoh itu). Dan ketiga, Vlug (pantat).

Padahal seperti kita ketahui ucapan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh adalah sebuah ucapan salam sekaligus doa yang kita tujukan kepada orang lain. Ucapan salam dalam Islam sesungguhnya merupakan do’a seorang Muslim terhadap saudara Muslim yang lain. Maka, apabila kita mengucap salam dengan hanya menuliskan “Ass“, secara tidak sadar mungkin kita malah mendoakan hal yang buruk terhadap saudara kita.

Kita paham, mungkin banyak orang diantara kita cukup sibuk dan ingin cepat buru-buru menulis pesan. Barangkali, singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan. Karena itu, penulis menyarankan, jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS dengan kalimat lengkap karena sedang menyetir di jalan, misalnya, solusinya cukup mudah adalah menulis pesan to the point saja. Tulislah “met pagi, met siang, met malam dan seterusnya. Ini masih lebih baik dibandingkan kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari doa keselamatan Assalamu’alaikum menjadi “Ass” (pantat).

Jangan sampai awalnya kita ingin menyampaikan doa keselamatan yang terjadi justeru sebaliknya, mendoakan keburukan.  Kalau boleh saya mengistilahkah, niat baik ingin berdoa, jadinya malah ucapan kotor.

Ucapan salam adalah ucapan penghormatan dan doa. Apabila kita dihormati dengan suatu penghormatan maka seharusnya kita membalas dengan sebuah penghormatan pula yang lebih baik, atau minimal, balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.

Hasa saja, kalau kita mengganti ucapan kalimat salam arti awalnya sangat mulia, maka, yang terjadi adalah sebaliknya, salah dan bisa-bisa menjadi umpatan kotor.

Karena itu, jika tidak berhati-hati, mengganggati ucapan Assalamu’alaikum (Semoga sejahtera atasmu) dengan menyingkatnya menjadi “Ass” (pantat), ini mirip dengan mengganti doa yang baik dengan mengganti dengan bahasa jalanan orang Jakarta, yang artinya kira-kira, berubah arti menjadi (maaf) “Pantat Lu!

Singkatan ala Rasulullah

Meski nampak sederhana, ucapan salam sudah diatur oleh agama kita (Islam). Ucapan Assalamu alaikum السلام عليكم dalam Bahasa Arab, digunakan oleh kaum Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, intinya untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Mengucapkan salam, hukumnya adalah sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Itulah agama kita.

Sebelum Islam datang, orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan salam yang lain, seperti Hayakallah. Artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup. Namun ketika Islam datang, ucapan itu diganti menjadi Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa.

Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan, bahwa salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti “Semoga Allah menjadi Pelindungmu”.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasul bersabda, “Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Allah). Apakah kamu maujika aku tunjukkanpada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu!”   (HR. Muslim)

Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)

Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani)

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86. Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik.

Bedanya agama kita dengan agama lain, setiap Muslim ketika mengucapkan salam kepada saudaranya, dia akan diganjar dengan kebaikan (pahala).

Dalam kaidah singkat menyingkat pun sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasulullah. Dalam suatu pertemuan bersama Rasulullah SAW, seorang sahabat datang dan melewati beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan,” ujar beliau.

Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain. Ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullah.” Kata Rasulullah SAW, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah wa baraokatuh.” Rasulullah pun bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” [HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah].

Nah dari tiga singkatan itu silahkanAnda pilih yang mana yang Anda inginkan tanpa harus menyingkatnya sendiri yang justru bisa menghilangkan nilai pahalanya. Tentu saja, jangan Anda lupakan, tiga singkatan itu sudah rumus dari Nabi yang dipilihkan untuk kita.

Satu hal lagi yang perlu diingat adalah ketika kita menuliskan kata Assalamu’alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf L nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu’alaikum.

Karena apa ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan “Assaamu ‘alaika ya Muhammad” (Semoga kematian dilimpahkan kepadamu).

Dan kata assaamu ini artinya kematian. Kata ini adalah plesetan dari “Assalaamu ‘alaikum“. Maka nabi berkata, “Kalau orang kafir mengatakan padamu assaamu ‘alaikum, maka jawablah dengan wa ‘alaikum (Dan semoga atas kalian pula).” [HR. Bukhari]

Tulisan ini, mungkin nampak sederhana. Meski sederhana, dampaknya cukup besar. Boleh jadi, kita belum pernah membayangkannya selama ini. Nah, setelah ini, sebaiknya alangkah lebih baik jika memulai kembali menyempurnakan salam kepada saudara kita. Tapi andaikata memang kondisi tak memungkinkan, sebaiknya, pilihlah singkatan yang sudah dipilihkan Nabi kita Muhammad SAW tadi. Mungkin Anda agak capek sedikit tidak apa-apa, sementara sedikit capek, 30 pahala kebaikan telah kita kantongi. [indra yogiswara,tinggal di Jakarta/www.hidayatullah.com]

7 Tanggapan ke "Berhati-hati dengan “Salam”"

Terimakasih sudah mengingatkan saya… Insya Allah akan lebih memperhatikan masalah ini.

TANGGAPAN
Terima kasih kembali pak Kiyai…

Astaghfirullah, kebiasaan saya tuh. Baru sadar saya, jujur baru sadar. Terima kasih atas artikelnya. Insya Allah saya akan berusaha merubah kebiasaan yang ternyata “buruk” ini. Syukran jaziilan.

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh…

TANGGAPAN

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullahi wa barakaatuh
Alhamdulillah……..
Salam kenal dari kami

Syukron buat artikelnya…
jazakillah khair….

TANGGAPAN

Wa iyyakum….

Astagfirullah…saya juga biasa nyingkat kt salam kek gitu…
Trima kasih atas artikelnya…
Insya Allah saya gak ngulangin kebiasaan buruk itu lagi…

Assalamu `alaikum warhamatullahi wabarakaatuh

TANGGAPAN
He..he.. kami juga dulunya begitu….
Wa alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh

assalamu’alaikum
sedikit kritik buat antum ya akhi, kalau bisa sebelum posting antum edit dulu artikelnya.
Karena di artikel disebutkan tentang larangan menyingkat salam kepada sesama muslim, tapi di artikel yg sama juga ada disingkatnya salam kepada Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassalam dengan singkatan ‘SAW’ dan juga pensucian nama Alloh subhanahu wa ta’ala dengan ‘SWT’ yg mana kita harus lebih memperhatikannya daripada salam kepada sesama. Mohon maaf kalo ada salah2 kata ya akhi.
assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

TANGGAPAN
Wa ‘alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh
Jazakumullah Khair, atas kritiknya. Memang artikel itu cuma kami copy-paste jadi sebagaimana adanya. Namun kalau boleh berpendapat, kayaknya masalah penyingkatan yang terlarang menurut sang penulis adalah ketika penyingkatan tersebut mengandung makna yang buruk atau menyimpang dari makna sesungguhnya. Adapun penyingkatan seperti SAW dan SWT terdapat contohnya dari kitab-kitab beberapa ulama salaf walaupun tidak dalam bahasa Indonesia (hurup latin) namun dalam bahasa arab. wallahu a’alam.

Assalammu’alaykum…
akhi bukan kah lebih baik SWT, SAW, dan RA pada artikel ini juga jgn di singkat, terlepas dari makna buruk yang terkandung didalam nya dengan penyingkatan kata Ass alangkah baiknya kita
Memang benar bahwa SWT, atau SAW atau AS, atau RA sudah dapat dimaklumi artinya.
Tapi bukankah benar pula bahwa semua kalimat-kalimat itu lebih berhak untuk kita tulis dengan sempurna.
bukankah benar pula bahwa hati-hati kita pun sangat menyukai untuk menuliskannya dengan sempurna
bukankah benar pula bahwa siapa pun sangat menyukai untuk membacanya dengan sempurna
Afwan bukan maksud ana untuk mempertegas, ana juga pernah mengalami hal serupa seperti antum, kesalahan dalam mengcopi paste yang mana kadang kala terdapat penggalan kata yang seharusnya kita hindari. dan alahkah bagus dan baiknya kita merobah kesalahan yang sedikit kita lakukan itu.
Wallahu ‘alam bi showab

terima kasih, telah mengingatkan saya.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

SEDANG ONLINE

SALAFY

Sesungguhnya salaf kita adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam. Jika kita mengaku salafy, maka ikutilah manhaj beliau! Berpegang teguhlah kepada Al-Qur'an dan As Sunnah dan pahami kedua dasar sebagaimana para shahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in memahaminya. Dengan demikian tidaklah pantas jika ada sekelompok orang yang 'merasa' memiliki otoritas dan wewenang buat men-cap seseorang salafi (pengikut salaf) atau bukan.

KALENDER

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Katagori

Pengunjung

  • 122,256 hits

PALESTINA

DUKA PALESTINA, DUKA KITA JUGA. PENDERITAAN MEREKA ADALAH KESEDIHAN KITA. MUSUH MEREKA ADALAH MUSUH KITA "BANTU PALESTINA" "SELAMATKAN MUSLIM DI SANA"