Jawaban Syaikh Ali Hasan Al-Halabi terhadap pernyataan Syaikh Robi Bin Hadi Al-Madkholi

Al-Qoul Al-Adli Al-Amin fi Mubahatsati As-Syaikh Robi Fi Jalsatihi Ma’a Al-Filasthiniyyin  (Perkataan yang adil dan terpercaya tentang diskusi Syaikh Robi dengan orang-orang Falestina di majlisnya ).

Penulis : Ali Hasan Al-Halabi

Ilustrasi
Ilustrasi.

.. (Aku Tidak akan memusihimu sebagaimana orang lain memusuhimu, antara diriku dan dirimu adalah ilmu) ..

Ini adalah kata-kata terakhir yang saya ucapkan  kepada Syaikh Rabi Bin Hadi – semoga Allah melindunginya – sebelum saya mengucapkan kata salam dan perpisahan – di waktu  terakhir saya bertemu dengannya di rumahnya di Mekah, di pertengahan bulan Ramadan  tahun (1429), dan hal ini adalah sesuatu yang saya sangat menjaganya sampai saat ini – dan saya meminta kepada Alloh untuk membantu saya dalam hal ini.

Saya telah menyebutkan di artikel sebelumnya «Berlemah lembutlah kepada Syaikh Robi – semoga Allah memberkati Anda -» apa yang wajib bagi kita – sebagai salafi – terhadap Syaikh Rabi – semoga Allah melindunginya -, dan yang wajib bagi kita adalah berlemah lembut dengannya, dan bersikap halus kepadanya – walaupun hal itu dalam membantah apa yang kita lihat dari kesalahan-kesalahannya – semoga Allah memberkatinya – karena dia adalah manusia diantara manusia , «membantah  dan dibantah».

Mungkin ini adalah yang pertama kali  saya akan menjelaskan di dalmnya – dengan penuh rasa hormat dan penghargaan – dalam menyanggahnya dan menjelaskan kebenaran beserta dalil dan bukti – yang secara jelas mengungkapkan- sebagian dari apa yang dikatakan oleh beliau kepada saya atau koreksiannya kepada saya dan hal itu berdasarkan dari apa yang disebutkan dalam (Majlis Mahasiswa Falestina), dan saya berusaha dengan sepenuh kekuatan untuk menjaga pena saya dengan adab ilmu, dan kekuatan argumen – secara bersamaan -.

Dan ini semua – bagi setiap orang yang arif – adalah hak yang syari’  yang mu’tabar .

Dan barangsiapa yang menyangka bahwa kekuatan argumen dan kebenaran bertentangan dengan  adab  ilmu atau penghormatan terhadap ulama maka hendaklah dia menangisi  dirinya sendiri, seperti orang yang sesat dan jelek yang mensifatiku dengan zindik hanya karena aku menulis artikel yang telah lalu (Berlemah lembutlah kepada Syaikh Robi).

Dan saya mengira bahwa syaikh – Semoga Alloh memberikannya taifiq – akan bergembira dengan diskusi yang penuh kecintaan ini, karena hal ini akan membuahkan bagi syaikh – insya Alloh – pembetulan pemahaman yang salah dan pembetulan kenyataan-kenyataan  dan ilmu.

… Dan Allah – Yang Maha Kuasa – berfirman  : (Dan, di atas orang yang berilmu ada Dzat Yang Maha Mengetahui) …

Dan aku akan membahas ucapan-ucapan syaikh  - semoga Allah melindunginya – dan kata-katanya yang membicarakan tentangku,  kata demi kata dalam majlis tersebut, dan saya akan menyebutkan kebenaran yang sesuai dengan kenyataan, baik kebenaran  itu bagi saya atau bagi syaikh, dan Allah adalah Penolong orang-orang yang   benar.

1. Syaikh berkata : (Buku ini adalah sanggahan untuk  saya)!

Aku berkata : Yang dimaksudkan oleh  syaikh – semoga Allah melindunginya – adalah buku saya «Manhaj As-Salaf As-Sholih Fi Tarjih Al-Masholih Wa Tathwih Al-Mafasid Wa Al-Qobaih Fi Ushuli An-Naqd Wa Al-Qobaih »  telah terbit edisi revisi yang kedua dengan beberapa tambahan – segala puji bagi Allah -. Seandainya kitab itu memang dimaksudkan untuk menyanggah beliau, apakah ia akan mencela semua kitab yang tujuannya untuk menyanggah ulama, siapapun dia dalam segi keutaamaan dan kedudukannya?

Atau bahwa orang yang mencela buku – buku apa pun ia – karena buku tersebut menyelisihi kebenaran , dan bertentangan dengan petuntuk ?

Dan inilah sesuatu yang sangat ingin saya ketahui sampai saat ini, dan  saya tidak melihat pentingnya sanggahan-sanggahan beliau kepada saya setelah saya menelitinya.

Apakah ada satu orang  dari para ulama – secara keseluruhan– yang tidak boleh disanggah?

2. Syaikh Robi berkata : (Saya sabar menghadapinya selama sepuluh tahun, dia bersama mereka, mendukung mereka, membela mereka dan saya tetap sabar).

Aku berkata : Yang dimaksud beliau – Semoga  Allah memberikan taufiq kepadanya – Bahwa ia  sabar dalam menghadapiku (Syaikh Ali) dalam hal yang beliau isaratkan yaitu mendukung dan membela mereka saja.
Adapun kesabaran, maka kita sama-sama mencurahkannya – Segala puji bagi Alloh -. sebagaimana beliau melihat saya dalam posisi yang salah dari mereka [Yang beliau  maksudkan adalah Maghrowi, Urur, Abu Al-Hasan, kemudian Abu Ishak, dan Muhammad Hassan], saya – juga – melihat sikap beliau  terhadap mereka tidak benar – seharusnya kita saling menasehatkan dengan ilmu, dan saling mewasiatkan dengan petunjuk – maka apakah yang terjadi pada beliau ?

Kesabaran itu membutuhkan kasih sayang sebagaimana kesabaran itu tegak di atas kebenaran, dan kesabaran itu tidak dibatasi hanya ada pada satu orang dan  tidak terlarang dari seseorang! (dan saling menasehatilah kalian dengan penuh kesabaran dan saling menasehatilah kalian dengan penuh kasih sayang) …

Adapun aku bersama mereka, maka hal itu tidak benar, bahkan -demi Alloh- aku hampir tidak bertemu dengan salah satu dari mereka dan tidak meneleponnya melainkan hanya sekali setahun atau dua tahun sekali , atau mungkin lebih dari dua tahun- dan Allah menjadi saksi atas hal itu – bahkan aku tidak berbicara dengan sebagian mereka dan tidak meneleponnya bertahun-tahun lamanya, lalu bagaimana bisa aku dikatakan bersama mereka?

Jika yang diinginkan oleh syaikh : (Aku bersama dengan mereka) yaitu dalam pemikiran dan ide-ide, maka saya bersama mereka sebagaimana saya bersama dengan yang lainnya yang saya yakini sebagai seorang salafi walaupun dia salah dalam sebagian masalah, dan aku tidaklah bersama orang-orang hizbiyyah, takfiriyyah, qutbiyyah atau dengan orang-orang selain mereka yang menyimpang.

Adapun aku mendukung mereka – secara umum maka ini tidak benar juga – bahkan  aku menyelisihi sebagian dari pendapat mereka yang mereka anggap sebagai kebenaran tetapi saya tidak berpendapat seperti itu, dan saya menasehati mereka dalam masalah tersebut dan saya  memperingatkan kesalahan meraka dengan penuh kelembutan, kasih sayang  dan kesantunan.
Hal Ini adalah – tanpa menjatuhkan mereka dan membidahkan mereka sebagimana apa yang kita sepakati terhadap  mereka  dan orang-orang yang  seperti mereka – dengan Syaikh Rabi – di depan sekelompok para ulama – di rumahnya di Mekah – delapan tahun yang lalu,  maka apa yang telah berubah dari beliau ?

Adapun saya membela mereka , maka  itu benar – dan aku masih membela mereka -, dalam hal yang aku berpendapat mereka dikritik dengan tidak benar, atau dikatan kepada mereka sesuatu yang tidak benar seperti : mubtadi’ / pembuat bid’ah, sesat, setan, pengikut dajjal,  quthbi / pengikut sayyid qutub, takfiri / yang suka mengkafirkan – dan yang lainnya – yang tidak mengandung – menurutku – satu segipun dari segi kebenaran.

Betul , mereka memiliki kesalahan, sebagimana yang lainnya memiliki kesalahan-kesalahan padahal mereka itu adalah salafiyyin walupun mereka ulama besar -, akan tetapi sanggahannya tidak separah itu atau tidak dengan sanggahan yang menyerupainya!

Dan jalan keluar dari permasalahan ini adalah : Saling berwasiat dan saling menasehati bukan dengan cara saling memboikot atau penyerangan yang dahsat tanpa henti!

Dan harus diperhatikan – yang ke enem dan kesembilan – bahwa perbedaan para ulama ahli sunnah tentang kedudukan seseorang  dalam jarh wa ta’dil (komentar baik dan buruk) – dahulu dan sekarang – merupakan permaslahan khilafiyyah ilmiah yang mu’tabar.

Seperti perbedaan pendapat mereka – dahulu – tentang Ibnu Abi Yahya, dan perbedaan pendapat mereka – sekarang – tentang Ibnu Jibrin.

… Dan selain mereka, banyak juga para ulama yang diperselisihkan dalam jarh wa ta’dil!

3.  Syakh Robiberkata : ( Dia menyanggah dengan satu buku atau dua buku, dan dengan situs internet yang jelek ).

Saya berkata (Syaikh Ali) : Bahkan jika bantahan itu dengan sepuluh buku; maka apa urusannya? Apakah kitab itu diejek karena ia adalah kitab ? atau

Apakah ejekan  itu diarahkan kepada kandungannya karena ia menyelisihi  kebenaran ?

Apakah ada seseorang yang berada di atas kritik dan sanggahan (tidak boleh dikritik dan disanggah) ?

Situs yang jelek yang dimaksudkan Syaikh Robi adalah situs kita yang diberkati – Semoga Allah memberikan taufiq kepadanya – ( Situs semua salafi) dan ia adalah situs yang aku tidak mengizinkan – sekuat tenagaku- di dalamnya ada sesuatu yang mengusik Syaikh Robi, baik itu celaan atau pencemaran nama baik, apalagi kejelekan yang lebih parah dari itu.

Dan apa yang luput dari saya, saya minta dari saudaraku yang mengikuti perkembangan situsku untuk menunjukanku kepada hal itu  agar saya segera menghapusnya.

Dan ini permintaan langsung dari saya yang ditujukan kepada saudara-saudaraku pengurus situs ini begitu juga kepada para anggota dan pengunjung.

Dengan pentingnya membedakan antara koreksi ilmiah yang bersih dan celaan yang tidak ilmiah yang tegak di atas pencemaran nama baik dan menjelek-jelekan dan mencampurkan antara keduanya merupakan pencemaran nama baik yang sebenarnya.

4. Syaikh Robi berkata : Sekarang dia mencemarkan nama baikku, Ali Hasan tidak memujiku.

Saya berkata : Adapun saya mencemarkan nama baiknya maka ini tidak, seribu kali tidak, dan saya meminta bukti yang paling ringan terhadap pengakuan ini, dan kalian tidak akan menemukannya, adapun koreksi yang syari’ maka itu urusan yang lain, dan bagi setiap masalah ini ada babnya dan sebab-sebabnya, adapun saya tidak memujinya, maka memujinya secara hukum syari’ tidaklah wajib, seandainya kami berpendapat bahwa hal ini wajib maka hal ini adalah wajib kifayah bukan wajib ain, dan saya tidak mengira bahwa ada seseorang yang punya akal mengatakan bahwa pujian itu wajib kifayah atau wajib ain, bahkan yang benar dalam masalh ini dan kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa saya memujinya – semoga Allon memberikan taufiq kepadanya – sebagaimana saya memuji yang lainya dari para ulama.

Dan diantara pujian saya yang terkahir adalah : Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya oleh para penanya untuk disebarkan di situs kita yang di dalamnya terdapat pujian untuk beliau, dan pengakuan terhadap keutamaannya, akan tetapi pujian dan keutaamaan tidak mewajibkan adanya kema’suman / keterjagaan dari kesalahan walaupun dalam segi kemaksuman yang paling rendah.

5. Syaikh Robi berkata : Ali Hasan memberikan kekuasaan kepada anak kecil untuk melawan para ulama ; memuji mereka, memberikan rekomondasi kepada mereka, ia menegatakan : Robi termasuk diantara para ulama padahal  dia memerangi saya (muharobah) dalam masalah ini.

A. Saya menjawab : Adapun memberikan kekuasaan kepada anak kecil untuk melawan para ulama, maka saya tidak tahu masalah ini dan saya tidak pernah menghayalkan adanya hal ini, dan apabila hal ini ada pada selainku maka saya tidak meridoinya, maka bagaimana saya memberikan kekuasaan kepada anak kecil sedangkan saya tidak mengenalnya dan saya tidak meridoinya, bagaimana aku memuji sesuatu yang tidak terjadi dan tidak  ada ?

Kemudian seandainnya kita mengangap anak-anak kecil itu ada secara nyata dan ini merupakan ucapan untuk menghina mereka (masyayikh yang disebutkan namanya di atas yang syaikh ali bela), apakah anak-anak kecil dicegah untuk menerima kebenaran yang ada pada mereka (anak-anak   kecil)?

Apakah kebenaran itu dibatasi keberadaannya pada orang-orang yang tua secara umur, atau apakah terkadang yang kecil memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang besar ? dan terkadang orang besar salah melakukan seusatu padahal anak kecil tidak salah dalam melakukannya ?

Dan dalam sungai-sungai yang kecil ada sesuatu yang tidak terdapat pada samudra yang luas”

Dan saya melihat kata-kata yang lembut dalam ucapan para ulama hadits yang dulu yaitu kata ‘as-sobi / anak kecil ’ ; ucapan ini dikatakan sebagai jarh / komentar buruk bagi para perowi hadits yang tepercaya.

B. Adapaun Syaikh Robi termasuk para ulama maka hal ini aku tidak menyekisihinya, dan saya menjadikan pengakuan ini sebagai ibadah kepada Alloh dan ini merupakan pujian, maka perhatikanlah, akan tetapi saya melihat beliau seperti para ulama yang lainnya terkadang salah dan terkadang benar, terkadang mengetahui dan terkadang tidak mengetahui, terkadang menyanggah dan terkadang disanggah, dan tidaklah perkataan beliau merupakan tanda terhadap kebenaran bahkan mesti dengan dalil yang memuaskan dan hujjah yang nyata atas setiap perkataan, atau fatwa atau hukum,dan bukanlah sesutu yang samar bahwa tidak setiap dalil itu memuaskan, kalaulah dalil yang dicari itu tidak harus memuaskan maka pastilah hadits (Air laut itu airnya suci) sebagai dalil rukunnya salam dalam sholat.

Maka ia adalah dalil bagi orang yang berpendapat demikian tanpa ada keraguan, akan tetapi dalil tersebut tidak memuaskan bahkan tidak mewajibkan yang lainnya untuk mengikutinya, maka tidaklah cukup kesohihan dalil  kecuali dengan benarnya segi pengambilan dalil dan ini menurut ilmu usul, dan dalam hal ini tidak layak berselish tentangnya dua orang yang bijaksana.

C. Adapun ali hasan memerangiku dalam permasalahan ini, maka memerangi siapa, bagaimana ini terjadi, dan di mana ?

Ini adalah pertanyaan – pertanyaan syari’ yang membutuhkan kepada jawaban yang jelas, disertai dengan bukti terhadap setiap pengakuan walaupun pengakuan itu sedikit, dan kalau tidak demikian maka pengakuan ini tertolak.

Dan hendaklah diprerhatikan – untuk yang ketiga dan keempat kalinya – terhadap perbedaan sanggahan dan memerangi (muharobah).

6. Syiakh Robi berkata Ahmad Bazmul termasuk ulama , Ia Doktor, Ia Doctor dalam hadits dan Ali Hasan adalah penuntut ilmu

Bekata Syikh Ali : Saya tidak akan menjawab hal ini dengan panjang lebar, dan cukuplah kuku saya atas pesifatan syaikh kepada saya  bahwa saya adalah penuntut ilmu, dan alhamdulillah ini adalah ucapan guru saya Al-Imam Al-Albani beraklali – kali mesifati dirinya dengan penuntut ilmu dan beliau tidak menambah sifat tersebut dengan sifat yang linnya, adapun perbandingan keutamaan apalgi tarjih / mana yang lebih kuat maka aku tidak berusaha untuk mencapainya dan tidak mengharapkannya akan tetapi aku akan meninggalkan penilaian dalam hal ini kepada sejarah dan orang -orang yang berakal dan tidak diragukan lagi bahwa mereka akan selalu ada, dan sebaliknya syikh robi – semoga Alloh memmberikan taufiq kepadanya – tidak akan menyelisishiku bahwa banyak orang yang memiliki gelar Doctor akan tetapi tidak berhak mendapatkan DR melainkan hanya salah satu dari hurup itu bisa hurup yang awal yaitu D atau yang akhir yaitu R.

7. Syikh Robi berkata : Siapa guru – gurunya ?

Saya menjawab : Yang beliau masksud adalah saya, adapun guru-guru kami dalam sanad dan izajah adalah guru kami Syaikh Hamad Al-Ansori dan guru kami Syaikh Badiuddin As-Sindi, guru kami Syaikh Atho’ulloh Hanif dan ini adalah 25 tahun yang lalu dan guru syaikh Ali Adam Al-Itstubi Al-Makki – semoga Alloh menjaganya – dan yang lainnya, adapun guru kami yang tidak ada bandinganya dan saya sangat bangga dengannya adalah As-Syaikh Al-Imam AL-faqih Al-Muhaddits Abu Abdirrohman Muhanmmad Nasiruddin Al-Albani yang mesifatiku dalam kebanyakan kitabnya dengan dengan murudku, sahabatku, saudaraku dan As-Syaikh mengisyaratkan kata-kata ini kepadaku atau beliau menukil ucapan dariku, maka mengapa ada orang yang meniadakan hal itu hanya dikarenakan kabar burung atau kesalahan pena dan tanpa ada ilmu dan penelitian ilmiyah.

8. Syaikh Robi berkata : Dia belajar kepada Al-Albani, dalam kitab apa ia bermulazamah kepadanya, ia bermulazamah dalam kitab Sohih Bukhori , ia bermulazamah dalam kitab Sohih muslim, ia bermulazamah kepadanya dalam kitab Al-Aqidah At-Thohawiyyah ? dan mempelajari kitab-kitab tertentu ?

Saya berkaya : Saya beharap kepada syaikh Robi untuk menjelaskan kepada kami dalil yang memuaskan terhadap apa yang ia sisyaratkan bahwasanya berguru itu mesti dengan mulazamah ? dan mempelajari kitab-kitab tertentu

Ingatlah yang saya minta adalah dalil yang memuaskan bukan yang lainya , dan kita tidak mengetahui apa yang kita akan perbuat yang terhadap apa yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Mizzi, di dalam kebanyakan biografi kitabnya Al-Bahru (yang seperti lautan ilmu) yaitu Tahzibul kamal dan diantara mereka murid yang hanya mendengarkan satu hadits saja dan dari sebagian mereka Ada syaikh yang tidak mengajarkan melainkan hanya satu riwayat saja bahkan apa hukum Al-Munfarodat dan Al-Wuhdan dalam ilmu hadits ?

Dan saya sangat heran sekali dari orang yang tidak takut kepada Alloh, dengan menisbatkan bahwa ia murid guru kami – Syaikh Al-Albani – dengan merasa bangga karena hadirnya dia di kajian beliau di universitas, dan belajar di universitas walaupun lama tapi hal ini adalah terbatas, pada waktu yang sama dia meniadakan pengakuan murid terhadap orang yang menemaninya (syiakh al-albani) tatkala safar, dan ia duduk di majlisnya tanpa terhitung ; tatkala beliau hadir dan Syaikh Al-Albani menyebutkan murid tersebut  dalam kitab-kitabnya dengan sebutan yang sangat banyak ?

Dan akirnya saya memberitahukan bahwasanya saya tidak mengetahui dari guru kami bahwa beliau mempelajari salah satu dari kitab-kitab yang telah disebutkan di atas kepada salah seorang syaikh dan tidak pernah bermulazamah kepadnya, terus apa yang akan kita katakana kepada syaikh al-albani ?

9. Syaikh Robi berkata : Al-Albani tidak punya murid  ?

Saya menjawab :  Seandainya kita menerima adanya nukilan ini dari beliau

Maka penjelasaanya dari 4 segi :

Yang pertama : Bahasanya beliau menulis dengan tangannya sendiri di beberapa tempat yang lain secara tegas menetapkan bawha ia mempunyai murid, dan yang menetapkan sesuatu didahulikan daripada yang meniadakan sesuatu sebagai mana hal ini sudah menjadi ketetepan dalam ilmu usul.

Yang kedua : Bahwa guru kami mengatakan hal ini adalah ketika beliau tidak punya murid kemudian setelah itu beliau mempunyai murid maka tidak ada pertentangan dalam hal ini.

Yang ketiga : Bahwa guru kami mengatakan hal ini karena rendah hati seperti yang dikatakan beliau di waktu yang lalu : Saya mengajarkan akan tetapi saya tidak mentarbiyah. Maka orang-orang hizbiyyah menjadikan hal ini sebagai tangga untuk mencela beliau dan metode beliau.

Yang keempat : Menerima dan menyebarkan ucapan bahwa guru kami tidak punya murid adalah celaan secara tidak langsung bahkan ini celaan secara langsung kepada guru kami, maka bagaimanakah keadaan seorang syaikh siapapun dia yang telah menghabiskan seperempat abad umurnya untuk mengajar kemudian dia tidak punya murid, maka bagaimana jika guru yang tidak punya murid tersebut adalah al-albani dan saya tidak mengira bahwa syaikh robi menginginkan makna ini, maka kalau begitu makna apa yang beliau inginkan dari ucapannya ?

10. Syaikh Robi berkata : Al-Albani dengan suaranya mengatakan hal itu dan kita mengetehui kenyataan ) ini sebagai jawaban atas orang yang berkata kepadanya  dengan menukil dari al-albani : Dia menulis (bahwa ia muridmu) ya syaikh dia menulis (bahwa ia muridmu)  wahai syaikh

Maka saya tidak tahu siapakah yang buktinya paling kuat, kalimat dalam kaset yang tidak diketahui  tempatnya dan waktunya dan  keadaannya , ataukah kalimat ini terdapat dalam kitab syaikh al-albani yang terpercaya diketahui tanggalnya dan keadaanya, adapun mengetahui kenyataan maka dari siapa dan bagaimana dan di mana ? dan ini adalah pertanya-pertanyaan syari’ yang membutuhkan jawaban, bukankah ini juga pertanyaan-pertanyaan syari’ yang saya mengira bahwa saya tidak akan mendaptkan jawabannya, dan apabila ditemukan jawabnya maka dimanakah ia ? dan bagaimana apabila jawaban itu dikesempatan yang lain ?

11. Syaikh Robi berkata : Tidaklah laki-laki ini melainkan muridnya Syaqqroh.

Saya menjawab : Begitulah beliau berkata dan yang dimaksud adalah saya, bagaimana saya bisa menjadi murid Syaqroh padahal saya belum belajar kepadanya satu kitabpun dan saya tidak bermulazamah kepadaya dalam sohih bukhori, muslim dan at-thohawiyah dan yang lainnya, maka kenapa engkau mentepkan saya murid saqroh disni sementara enkau meniadakan bahwa saya murid al-albani  disana ?.

Dan merupakan kesempatan yang baik apabila saya menyebutkan perkataan Syqqaroh : At-Tohawiyyah adalah injilnya orang – orang salafi. Maka apakah yang menjadikan beliau menjadikan saya murid syaqroh dan tidak menjadikan saya murid bagi imam al-albani padahal  kenyataanya itu satu ?

Yang kedua : apakah tidak sampai kepada beliau bahwa saya telah menyelisishi syaqroh; mebuangnya, menyanggahnya, dan beliau – semoga Alloh meberinya hidayah –  pembela said qutub dan ikhwani , takfiri dan seperti bunglon, maka permuridan jenis apakah ini seandannya permuridan tersebut masih ada ?

Yang ketiga : Syaikh Robi menganggap dirinya murid Syaikh Al-Albani karena dia hadir dimuhadoroh beliau di jami’ah islamiyah madinah dan ini adalah haknya untuk menjelaskan penjelasan yang telah lalu , kenapa dia tidak mengangap dirinya murid syaqroh yang telah mengajarnya di muhadoroh di jamiah islamiyyah, dan ini merupakan sesutu yang tidak terduga bagi kebnyakan orang.

Maka siapakah sebenarnya yang murid syqroh itu? Apabila dikatakan Syaikh Roboi telah menyelisihinya, maka kita katakan : Kami sudah menyekisihinya sebelum beliau menyelisihinya dan dengan seuatu yang lebih kuat dan lebih jelas, Bahkan saya telah mendengar dari syaikh robi sendiri bahwa dia segan untuk menyanggah segaian kebatilan syaqroh karena ia telah mengajarnya di jamiah islamiyyah, apapkah hal ini menghalangi beliau untuk menjelasakan kebenarann ? Subhanalloh, dan dalam akhir bagian yang pertama dari dikusi ini saya akan mengingatkan syaikh Robi dengan nasihatnya untuk penduduk yaman dan saya telah menukil ucapan beliau ini dalam kitab manhaj salaf sholih halaman 423 cetakan ke 2 . Telah meneleponku (aku = syaikh robi) Syaikh Muqbil bin Hadi AL-Wadiie sekali : Ia berkata : Telah sampai kepadaku bahwa engkau mengatakan tentang halaqoh -halaqoh kami bahwa kami adalah hizbiyyun ? saya (syaikh robi) tidak mengingat bahwa saya telah menggucapkan perkataan  ini dahulu, akan tetapi saya berkata sekarang : Ia saya telah mengucapkan perkatan tersebut (bahwa halaqoh-halaqoh kalian adalah hizbiyyah), karena sesungguhnya tukang  fitnah akan menjadikan bagi tokoh yang penting teman – teman setia, mereka menjadikan bagi syaikh al-albani teman-teman setia,dan bagi syaikh ibnu baz teman setia dan bagi para pemimpin menjadikan teman teman setia dan bagi setiap ulama  menjadikan teman setia untuk mencapai tujuan mereka dari teman-teman setia ini, maka kita tidak merasa aman terhadap tipuan tipuan .

Maka saya sangat berharap dari syaikh robi – karena beliau adalah tokoh yang sangat penting sekali di hari ini – untuk meperhatikan teman sejati dari satu sisi  dan menjauhi  tipuan – tipuanya dari sisi yang lain karena saya tidak melihat hal yang lebih banyak pengaruhnya terhadap syaikh robi dalam pernyataan-pernyataan terhadap saya   melainkan  kebanyakannya merupakan pengaruh dari mereka atau tumbuh dari mereka, semoga Alloh memperlihatkan beliau tentang mereka dan menyingkapkan mereka – dengann karuniaNya – bagi beliau sebagaimana Alloh telah menyinggkapkan bagi beliau orang – orang yang sebelum mereka dan Alloh Maha mengetahui mereka , dan tidaklah Syikh Robi di hari ini lebih utama dari Al-Albani dan di hari yang lalu dari Ibnu Baz semoga Alloh merahmati mereka tatkala hidup dan sesudah mereka meninggal.

==================

DARI REDAKSI salafy.wordpress.com: Ini adalah batas artikel pertama yg kami copas dari http://zamzamalhawari.blogspot.com. Adapun kelanjutan di bawah ini dari artikel lainnya. Sehingga penomoran jawaban syaikh yg kembali mulai 11 sebagaimana sumber aslinya (zamzamalhawari.blogspot.com)

=======================

11. Berkata Syaikh Robi : Ali Hasan dan yang semisalnya meminta Al-Abbad (Al-‘Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr -hafidzohulloh-) untuk menyusun kitab : Berlemah lembutlah engkau wahai ahlu sunnah kepada ahlu sunnah.

Saya berkata  : Alloh dan orang-orang yang bijaksana dari hamba – hamba Alloh mengetahui bahwa  perkataan ini tidak memiliki dalil sama sekali, bahkan di hari itu akupun dikagetkan dengan munculnya kitab ini (Berlemah lembutlah engkau wahai ahlu sunnah kepada ahlu sunnah) dan saya tidak mengetahui sedikitpun tentang buku ini sebelum kemunculnya.
Bahkan aku menulis dalam majalahku Al-Asholah makalah  yang khusus berkaitan dengan kitab ini – ketika kemuculannya – saya mengkritiknya dalam beberapa poin walaupun saya sependapat dengan buku ini secara global, dan kita tidak hanya punya hitam putih saja

Maka saya tidak tahu – dan inilah keadaan saya – bagaimana saya dan orang yang semisal dengan saya dianggap termasuk diantara orang – orang yang meminta syaikh Al-Abbad untuk mengarang kitab ini ?

Dengan meberikan isarat – di sini – bahwasanya risalah Fadhilah Ustadz Syaikh Al-Abbad menunjukan secara yakin bahwasanya beliau membaca, menelaah dan mengetahui bahkan beliau mengetahui sekali, tidak sebagaimana yang digembar-gemborkan dan disebarluaskan oleh orang banyak dan para pengikut mereka yang berbeda dengan kenyataan.

Perhatian !

Telah terjadi dalam majlis tersebut perkataan yang lain seputar Syaikh Al-Abbad, saya melihat perkataan tersebut merupakan perbuatan jelek terhadap beliau, akan tetapi saya berpegang kepada sarat saya dalam diskusi ini  yaitu  : Saya tidak membahas di dalamnya kecuali sesuatu yang berhubungan dengan saya, yaitu kritikan Syaikh Robi kepada saya – semoga Alloh memaafkannya – , dengan meninggalkan kesempatan untuk membantah Syaikh Robi kepada  selainku yaitu orang yang ahli dari kalangan  saudara-saudaraku dan anak – anakku – dengan bantahan yang penuh dengan hujjah dan adab ilmu –.

12. Kemudian Syaikh Robi berkata – mengajak bicara teman-teman kita dari Falestina – : Demi Alloh seandainya timbangan kalian adalah kitabulloh, sunnah dan perkataan salaf sholih kalian tidak akan menolong Ali Hasan walaupun dengan satu kata.

Saya berkata : Semoga Alloh memaafkan Fadhilah Syaikh Robi dan membaguskan ahir hayatnya,  Apakah Ali Hasan menyelisihi alquran, sunnah dan perkataan salaf sehinngga dia tidak sama dengan salaf walaupun dalam satu kata ?

Mahasuci Alloh, apakah sampai ketingkatan ini, apakah saya tidak memiliki walaupun satu kata yang sama dengan kitabulloh, sunnah dan ucapan salaf, atau maksudnya aku tidak sama dengan kitabulloh, sunnah dan ucapan salaf walupun satu kata dalam hal yang Syaikh megkritikku ?

Jikalau yang dimaksud adalah yang pertama ( bahwa syaikh Ali Hasan  menyelisihi kitabulloh , sunnah dan salaf  dan tidak ada satu perkataanpun bagi beliau yang sama dengan salaf) maka kita telah melipatkan tikar ( mengakhiri diskusi ) dan kita menghalalkan berjaga-jaga diperbatasan untuk perang, jikalau yang dimaksud adalah yang kedua maka saya akan selalu meminta , apakah permasalahan itu ? dan bagaimanakah ia ? apakah ia pembahasan muwazanah ? atau pembahasan perbedaan aqidah dan manhaj ? atau pembahasan yayasan ihya turots ? atau pembahasan kritikan dengan penjelasan ( jarh mufassar ) ? atau pembahasan berita orang yang terpercaya (khobar tsiqoh) ? atau pembahasan kritikan dan pujian (jarh dan ta’dil) ? atau pembahasan kritikan kepada si pulan dan pencacatan kepada si alan ? mahasuci Alloh !!

Semuanya permasalahan ini – dengan semua pemaparannya – telah digambarkan kepada Syaikh dengan gambaran yang buruk, kalau tidak demikian maka saya dalam permasalahan-permasalahan ini mempunyai penjelasan yang jelas dan mepunyai pendahulu dari kalangan salaf  yang terhormat dan kuat – dihadapan fadhilah Syaikh Robi dan yang lainnya – .

Maka apakah yang terjadi ? kenapa Syaikh memberikan kepada mereka kesempatan untuk mencelaku di waktu yang mana Beliau  tidak memberikan izin  kepada mereka untuk mengkritik mereka (para penghasut syaikh) ?.

Atau apakah mereka memanjangkan  dindingku ( melindungiku ) dan dan memendekan dinding-dinding mereka ( membuka keburukan para penghasut Syaikh Robi ) ? , wahai Syaikh ! ini semuanya adalah masalah – masalah  ijtihadiyah dan perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah boleh dan diakui masih ada dalam bingkai manhaj salaf dan para ulamanya, dan saya tidak mengira – siapapun dia – yang mengklaim bahwasanya masalah – masalah ini adalah masalah – masalah yang qot’i atau bahwasanya perbedaan pendapat dalam masalah – masalah ini adalah perbedaan antara sunnah dan bid’ah.

Maka apakah yang telah di bolak – balikan oleh hari ini  agar engkau meninggalkan kaidah salafiyyah yang benar ? Apakah hukum terhadap masalah – masalah ini dengan menyalahkannya atau dengan membid’ahkannya menjadikan orang yang mengatakannya ahli bid’ah sebagaimana keadaan perbedaan pendapat dalam masalah – masalah yang besar seperti maslah iman, qodar, sifat-sifat Alloh, dan yang semisalnya ? apakah ini temasuk dari kaidah – kaidah salaf dalam membid’ahkan ? apakah tingkatan – tingkatan bid’ah dan membidahkan itu sama ?  dan apakah seperti ini penerapan salaf – semoga Alloh merahmati mereka – terhadap kaidah ini ?.
13. Berkata Syaikh Robi – semoga Alloh menjaga beliau –  : Demi Alloh, demi Alloh sesungguhnya Abul Hasan dan Urur  seratus kali  lebih jelek, lebih bobrok, lebih dusta, lebih kasar dan lebih menjijikan dari Salman Al-Audah, saya menyanggah Safar Hawali beberapa kali dan tidaklah ia menjawab walaupun dengan satu kata, Salman Al-Audah saya menyanggahnya dengan kitab Ahlul Hadits Hum At-Thoifah Al-Manshuroh, dan Ali Hasan tatkala terkepung dia mengatakan : Al-Jarh wa At-Ta’dil. Dia tidak mempunyai dalil dari kitabulloh dan sunnah, dan dia berkata : Kesalahan lafadz, kesalahan lafadz, demi Alloh dia tidak menjawab kepadaku dengan hujjah yang lainnya, dan nanti akan muncul dalam kitabnya ; dia menetapkan dalam kitabnya, dia tidak menjawab kepadaku dengan selain hujjah ini, dan nanti akan muncul perkataannya yang kedua mengakui bahwa ia salah, ini dalah kesalahan yang besar.

Saya berkata : Saya akan keluar sedikit dari sarat saya dalam diskusi ini, Apakah keadaan bobrok, dusta, kasar, jijinya Abul Hasan dan Adnan Urur -lebih parah  dari  Safar dan Salman – sebagaimana Syaikh Robi mengungkapkannya kembali kepada sebab bahwa Abul Hasan dan Urur menyanggah kepada Syaikh Robi sementara  Safar dan Salman sama sekali tidak menyanggahnya ?.

Ini adalah lahiriyah dari perkataannya, apabila Fadhilah Syaikh berkata : Saya tidak bermaksud demikian, maka  kita akan menerimanya dengan segera  – maka apakah yang diinginkan beliau – lahiriyah perkataannya atau yang lainnya ? apakah hanya karena menyanggah – sanggahan apapun ia – menjadikan pelakunya lebih kasar, lebih menjijikan, lebih pendusta, kemudian tidak adanya sanggahan menyelamatkan pelakunya dari hal tersebut seratus kali ?.

Saya berharap ini bukan maksud Syaikh Robi ; walupun ini adah lafadz dan nash dari ucapannya! Dan alangkah indahnya sebuah perkataan : Maksud dalam hati tidak bisa menolak lafadz yang diucapkan. Akan tetapi ; harus dengan kasih sayang dan kelembutan bukan dengan kemarahan dan balas dendam.

Adapun permaslahan Al-Jarh Wa At-Ta’dil maka saya telah mengupas sikap saya dan menjelaskan maksud saya tentangnya, dan saya telah menyingkapkan maksud saya dalam masalah tersebut dengan sesuatu yang tidak perlu ditambah lagi yaitu dalam cetakan kedua dari kitab saya ( Manhaj As-Salaf As-Sholih) halaman 133 -140 dan di sana saya telah menukil perkataan Syaikh Robi Bin Hadi sendiri – semoga Alloh meberikan taufiq kepadanya – dalam sebagian kitabnya seputar ilmu AL-Jarh Wa At-Ta’dil bahwasanya ia diciptakan untuk menjaga agama dan untuk menempatkan seseorang pada tempatnya ….. apakah dikatakan kepada sesuatu yang memiliki dalil dari kitabulloh dan sunnah bahwasanya ia diciptakan ?, maka yang dimaksud dalil-dalil yang menetapkan ; adalah  dalil- dalil  yang mensyariatkannya …… dan yang dimaksud dengan menciptakan adalah sesuatu yang baru : pembagiannya, jenis-jenisnya yang sebelumnya belum ada.

Maka yang diinginkan beliau itulah yang saya inginkan dan apa yang dimaksudan oleh beliau itulah yang saya maksudkan, dan jika lafadz dan ungkapan saya – yang sebelumnya dan yang sesudahnya – itu menghianati saya maka siapakah anak manusia yang tidak luput dari hal itu (tidak pernah salah).

Dipuji dan dicela padahal kamu tidak melampui batas kedua sifat itu

Dan kebenaran itu terkadang tercampuri dengan jeleknya pengungkapan

Dan apakah hal ini dimaafkan dari selainku dan tidak dimaafkan jika dilakukan olehku ? Maka kenapa demikian ? dan apakah yang membedakannya ? dan adapun perkataan Faddhilah Syaikh : Nanti akan datang perkataannya yang kedua dalam kitabnya yang menetapkan bahwa ia salah, maka saya mengira kesalahan dalam ucapan ini disebabkan  penukilan teman-teman setianya yang jelek – semoga Alloh memberikan petunjuk kepada mereka – .

Saya dalam kitab tersebut sama sekali tidak menetapkan bahwa saya salah, akan tetapi saya hanya menjelaskan maksud dan keinginan saya sebagai jawaban  bagi orang yang mempunyai masalah dengan ucapan saya … dan saya tidak mengira bahwa Fadhilah Syaih Robi memahami kitab saya sebagimana orang yang memahami bahwasanya saya menyalahkan diri saya di dalam kitab tersebut, akan tetapi jikalau pada hakikatnya saya menyalahkan diri saya  dalam buku saya, bukankah itu yang engkau inginkan wahai Fadhilah Syaikh ? kenapa engkau mencela saya ? akan tetapi kebenaran itu apa yang telah saya sebutkan dalam kitab saya, maka saya tidak akan memperpanjang pembicaraan.

14. Kemudian Dia  ( Ali Hasan ) mensifati para sahabat seperti buih !

Saya berkata : Maka ini – Demi  Rob Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam – tidak pernah terjadi dan tidak akan terjadi selama dalam keringatku terdapat harumnya sunnah ( selama aku berpegang teguh kepada sunnah ), saya memohon kepada Alloh untuk memberikan kepada kita keteguhan di atas sunnah dan wafat di atas keimaanan dan jika saya tidak demikian maka ini adalah jurang kehancuran dan kebinasaanku – semoga Alloh melindungi aku dan kalian -.

Adapun apabila yang dimaksudkan oleh Fadhilah Syaikh tentang sikapku terhadap orang yang mengatakan ucapan ini ( para sahabat seperti buih ) maka sikapku seperti sikap guru kami Fadhilah Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad – semoga Allloh menjaganya – dan ini adalah sikapku yang diumumkan, dikenal, tersebar luas dan jawaban yang terkenal yang mencakup sanggahan, peniadaan dan kritikan terhadap kalimat ini, yang mengucapkannya dan yang menukilnya atau yang rido terhadapnya dan saya tidak akan memperpanjang pembahasan ini karena hal ini sangat jelas dan tersingkap permasalahannya dengan mengisaratkan kepada para pembaca yang bijaksana – akan tetapi di manakah mereka kepada – kitabku ( Ithaf As-Sail Wa Ifham Al-Jahil Bima Waroda Fi As-Shohabah Al- Asoyil Min Al-Fadhoil).

Dan kitab ini sudah dicetak . Inilah hal yang Alloh menolongku untuk melakukannya di pertemuan ini dengan meminta kepada Alloh taufiq, kebenaran dan petunjuk bagiku dan Fadhilah Syaikh Robi dan menjauhkan kami semua dari kekeliruan dan sahabat – sahabat setia yang jelek sambil berdoa dengan doa nabawi yang dirwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shohinya dari Aisyah – Rodhiallohu ‘Anha – :

اللهمَّ مَن وَلِيَ مِن أمرِ أُمَّتِي شيئاً فشَقَّ عليهم : فاشْقُق عليه، ومَن وَلِيَ مِن أمرِ أُمَّتِي شيئاً فرَفَقَ بهم : فارْفُق به.

Ya Alloh barang siapa yang memegang sebagian urusan ummatku kemudian ia menyusahkan mereka maka susahkanlah ia dan barang siapa yang memegang urusan ummatku kemudian ia berlemah lembut kepada mereka maka berlemah lembutlah kepadanya.

(Ditejemahkan oleh Abu Wafiyyah Zamzam Al-Hawari dari situs guru kami yang tercinta Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ali Hasan Bin Abdul Hamid Al-Halabi Hafidzohulloh http://www.alhalaby.com/play.php?catsmktba=1907 ).

(Makalah ini diterjemahkan oleh Abu Wafiyyah Zamzam Al-Hawari dari www.alhalaby.com/play.php?catsmktba=1888, saya memohon dari para ikhwah yang membaca terjemahan ini untuk memberikan masukan apabila  mendapatkan kekeliruan dalam terjemahan ini, semoga Alloh Membalas ikhwah semua  dengan kebaikan! Ya Alloh tolonglah guru kami As-Syaikh Al-Muhaddits Ali Hasan AL-Halabi dari orang-orang yang mendoliminya – beliau adalah pewaris ilmu Amirul Mu’minin Fi Al-Hadits Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad Nasiruddin Al-Abani yang kami merasa ada sesuatu yang kurang apabila kami menyebutkan suatu hadits tapi kami tidak menyebutkan pendapat Al-Imam AL-Albani tentang hadits tersebut).

============================================

Silahkan merujuk ke sumber kami di blog berikut: http://zamzamalhawari.blogspot.com

Komentar telah ditutup

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.