RSS

Karomah Para Wali

20 Mei

Suatu hari, sejumlah orang berkumpul  di majlis dzunnun al-mishri (w. 245 H), mereka membicarakan kelebihan-kelebihan dan karamah para wali. 

Di antara mereka ada yang berkata; Ibrahim bin Adham (w. 162 H) pernah berada di sebuah gunung bersama beberapa sahabat – sahabatnya. Lalu, ada seorang di antara mereka berkata; si fulan menuangkan air di lenteranya, lalu lentera itu menyala dab semalam penuh lentera itu tidak padam.

Ibrahim pun berkata, “Sekiranya ada seorang hamba yang shadiq (jujur) berkata kepada gunung; lenyaplah, niscaya gunung itu akan lenyap.”

Ibrahim mengatakan hal itu sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Tiba-tiba saja, gunung dimana mereka berada tersebut bergetar, hingga mereka ketakutan.

Kemudian, Ibrahim menghentakkan kakinya lagi ke tanah sambil berkata, “Tenanglah hai gunung, aku melakukan ini hanya utk memberi contoh kepada sahabat-sahabatku ini.”

Seketika itu juga, gunung tersebut diam dan tifak bergetar lagi.
Dzunnun yg berada dsitu dan mendengar cerita itu berkata, “Begitulah, jika ada seorang hamba berkata kepada kebun; beri kami makan kurma basah, sambil memukulkan tangannya ke pagar kebun itu, niscaya Allah akan mengirimkan kurma basah itu kepada mereka.”

Tiba-tiba, berjatuhanlah kurma-kurma basah di majlis Dzun Nun. Orang-orang pun memunguti dan memakannya. 

Tapi Dzunnun justru tampak sedih. dia berkata, “ya Allah, janganlah Engkau putuskan hubunganku dengan-Mu.”

[Ibnul jauzi, ‘Uyun al-Hikayat, hlm 164, penerbit Dar at-Taufiqiyah – Kairo, 2009]

(Status FB Ust. Abduh Zulfidar Akaha)

wallahu a’lam..

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Mei 2017 in Nashihat

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: