RSS

Persatuan Kebon Binatang?

Kami tidak ingin mengatakan bahwa apa yang dikatakan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas sebagai PERSATUAN KEBON BINATANG itu adalah soal DEMO BELA ISLAM, karena memang nyatanya beliau sama sekali tidak ada berkata demikian. Jadi mohon saudaraku sesama muslim jangan menebar “fitnah” itu. 

Namun kami  ingin menyampaikan bahwa istilah PERSATUAN KEBON BINATANG yang dilontarkan untuk menamai persatuan umat Islam yang berada di luar jamaah beliau (salafi) juga bukan perkataan yang elok. Terlihat arogan, melecehkan dan memperhinakan orang di luar kelompoknya. 

Seolah-olah apa yang beliau sampaikan itu adalah sesuatu yang tidak terjadi di kalangan kaum yang menyebut diri mereka pengikut ‘salafus shalih’ sendiri. Bahkan kenyataannya di kalangan SALAFI justeru hampir tidak ada persatuan sama sekali. Meski sentral pergerakan mereka sama, Saudi Arabia dan para Ulama kibar yang dijadikan rujukan juga sama, yakni Hai’ah Kibarul Ulama Saudiyah. Toh nyatanya orang-orang salafi ini terpecah dalam banyak sekali ‘faksi’. Dan parahnya antar ‘faksi’ ini saling menegasikan sebagai salafi. Sampai menuduh sesama mereka sendiri sebagai ahlul ahwa, ahlul, bid’ah, sururi, ihwani, pramuki, hijbi dan aneka laqob yang bermakna negatif lainnya. 

Puluhan tahun lalu Ustadz Yazid sendiri sudah ‘dipecat’ oleh kelompoknya Ustadz Jakfar Umar Thalib dari komunitas salafi. Bersama-sama dengan Ust. Abu Nida, Ust. Aunurrafiq dan yang lainnya sudah dicap Ahli Bid’ah, gara-gara berhubungan dengan kaum harakah dan yayasan Ihyaut Turats. Juga moment fatwa jihad Ambon dari Syaikh Muqbil memperparah perpecahan itu. 

Kami sangat mengetahui (walau secara global) bagaimana kehadiran Syarif Fuad H dan lainnya yang dianggap memecah belah salafiyun di masa-masa dulu. Sehingga mereka yang dulu punya satu corong majalah Assunnah pun kemudian pecah dengan muncul media dakwah lain seperti Majalah Salafi, Majalah Al Furqon, Majalah Qiblati dan aneka nama lainnya hingga kini.  

Demikian pula salafi kelompok Ustadz Jakfar Umar Thalib yang jika sebelumnya berpisah dari kelompok Ust. Yazid, Ust Abu Nida dan lainnya dalan moment Jihad Ambon dan Poso, selanjutnya mereka juga pecah berkeping-keping, saling tahzir dan hajr. 

Ust. Jakfar Umar dan kelompoknya dilaporkan oleh Ust. Dzulqarnain kepada Syaikh Mukbil dan Syaikh Robi. Hingga fenomena saling lapor dan tahjir ini terus beelanjut, Ust. Jakfar Umar Thalib dan pengikut setianya sepeti Ust. Umar Assewed, Usr. Luqman Baabduh, Ust. Asykari dll mentahzir Ust. Dzalqornain, Ust. Dzul Akmal, Ust. Khaidir dll. 

Tak berselang lama Ust. Jakfar Umar Thalib pun juga “dipecat” dengan sangat tidak hormat dari komunitas salafi Luqmani. 

Banyak kejadian tahzir, hajr, ishlah/rujuk yang kemudian terjadi berulang-ulang dan melelahkan di kalangan mereka.  Bahkan mungkin mereka sendiri sudah lupa berapa kali terjadi “gencatan senjata” selama perjalanan dakwah mereka.

Sampai kemudian pasca wafatnya Syaikh Muqbil dan kepemimpinan Ma’had Darul Hadits Yaman jatuh ke tangan Syaikh Yahya Al Hajuri, terjadi lagi perpecahan besar di kalangan salafi “yamani’ ini. Apalagi kemudian Ust. Dzulqarnain yang semula sudah “gencatan senjata” dengan kubu Ust. Askari-Ust. Luqman Baabduh, juga dibombardir dengan aneka tahzir. 

Lalu apakah salafi kelompok Ust. Yazid tidak berpecah belah dan cakar-cakaran? Dipermukaan sepertinya begitu. Radio/TV Rodja atau pun Yufid TV yang menjadi corong dakwah kelompok salafi tertuduh SURURI inipun ternyata kropos di dalam. 

Pada kalangan asatidz muda di lapangan juga tak pernah akur. Padahal kalau ada Dauroh (tabligh akbar) seolah-olah mereka besar bersatu karena kesama-an Ustadz Kibar yang datang (link Rodja). Masjid tempat kajian masing-masing Ustadz pun sama hanya jadwal berbeda, namun sebenarnya mereka selalu saling menggibah dan menjelek-jelekkan. 

Di Kaltim misalkan, antar Ustadz dari link yang sama (link Rodja) ini juga saling cela, saling tuduh tidak nyunnah, bahkan saling menggembosi. Ini realita. 

Nah, jika melihat realita seperti ini, persatuan model apa yang terjadi di komunitas para pengklaim “manhaj salaf” ini? Persatuan Islam ‘ala Fahmis Salaf seperti yang digembar-gemborkan oleh Ust. Yazid bin Abdul Qodur Jawas Hafidzahullah Ta’ala kah? 

Ataukah malah persatuan….. 

Ah, kami tak tega menyebutnya. 
Wallahu a’lam

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Mei 2017 in Nashihat

 

Karomah Para Wali

Suatu hari, sejumlah orang berkumpul  di majlis dzunnun al-mishri (w. 245 H), mereka membicarakan kelebihan-kelebihan dan karamah para wali. 

Di antara mereka ada yang berkata; Ibrahim bin Adham (w. 162 H) pernah berada di sebuah gunung bersama beberapa sahabat – sahabatnya. Lalu, ada seorang di antara mereka berkata; si fulan menuangkan air di lenteranya, lalu lentera itu menyala dab semalam penuh lentera itu tidak padam.

Ibrahim pun berkata, “Sekiranya ada seorang hamba yang shadiq (jujur) berkata kepada gunung; lenyaplah, niscaya gunung itu akan lenyap.”

Ibrahim mengatakan hal itu sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Tiba-tiba saja, gunung dimana mereka berada tersebut bergetar, hingga mereka ketakutan.

Kemudian, Ibrahim menghentakkan kakinya lagi ke tanah sambil berkata, “Tenanglah hai gunung, aku melakukan ini hanya utk memberi contoh kepada sahabat-sahabatku ini.”

Seketika itu juga, gunung tersebut diam dan tifak bergetar lagi.
Dzunnun yg berada dsitu dan mendengar cerita itu berkata, “Begitulah, jika ada seorang hamba berkata kepada kebun; beri kami makan kurma basah, sambil memukulkan tangannya ke pagar kebun itu, niscaya Allah akan mengirimkan kurma basah itu kepada mereka.”

Tiba-tiba, berjatuhanlah kurma-kurma basah di majlis Dzun Nun. Orang-orang pun memunguti dan memakannya. 

Tapi Dzunnun justru tampak sedih. dia berkata, “ya Allah, janganlah Engkau putuskan hubunganku dengan-Mu.”

[Ibnul jauzi, ‘Uyun al-Hikayat, hlm 164, penerbit Dar at-Taufiqiyah – Kairo, 2009]

(Status FB Ust. Abduh Zulfidar Akaha)

wallahu a’lam..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Mei 2017 in Nashihat

 

Malu dan Imam

​Rasa malu yang lahir dari kerendahan hati adalah sifat yang sangat mulia. Darinya muncul kebersahajaan dan darinya lahir kekuatan untuk mengikis kesombongan dan keangkuhan. Tak perlu merasa hina di hadapan manusia hanya karena kita seorang pemalu sebab Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa saja adalah Zat yang pemalu.
Dari Salman Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Tuhanmu Pemalu dan Pemurah, Dia akan malu terhadap hamba-Nya bila ia mengangkat tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikannya dengan tangan kosong.” (Riwayat Imam Empat selain Nasa’i. Hadits shahih menurut Hakim).
Ketika bicara soal sifat Tuhan, jangan kita membayangkan ekspresi sifat itu seperti eskpresi mahluk-Nya. Ya, karena Dia adalah “Laisa kamislihi syai’un” (tidak ada sesuatupun yang menyerupai/sama dengan Nya). Namun penyebutan sifat dengan kata yang identik dengan mahlukNya kita maknai sebagai ‘motivasi’ agar mahluk tersebut (kita manusia) memelihara sifat mulia itu. 
Rasa malu yang kita aplikasikan dalan bentuk kerendahan hati dan kelembutan budi pekerti adalah rasa malu yang merupakan cerminan keimanan. Ia memancar sebagai perhiasan yang indah dalam kehidupan seorang hamba Allah. 
“Malu itu bagian dari Iman.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Sahabat yang budiman, semoga kita selalu dianugerahi oleh Allah kelembutan budi pekerti kesantunan kata-kata, dan kerendah hatian sikap yang lahir dari aqidah Tauhid yang kokoh. Dan semoga hal itu melekat erat dalam jiwa dan raga kita, hingga akhir hayat… Aamiin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Desember 2016 in Nashihat

 

Semua Bid’ah Sesat?

Kalangan yang menolak adanya bid’ah hasanah selalu berdalih dengan hadits Nabi yang menyatakan “Sesungguhnya semua hal baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu masuk dalam neraka.”

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Oktober 2016 in Nashihat

 

Masalah Ushul dan Furu

BANYAK terjadi perpecahan di kalangan kita dikarenakan ketidaktahuan membedakan antara perkara ushul dan furu’. Akibatnya begitu mudah menyesatkan dan membid’ahkan. Ini tentunya bisa membawa perpecahan umat dan menimbulkan fitnah yang keji. Oleh karenanya kita kaum Aswaja hendaknya memahami persoalan ini, agar tidak ikut-ikutan bersikap seperti kelompok lain yang gemar mengobral celaan terhadap orang di luar madzhab/kelompoknya.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 September 2016 in Fiqih Syari'ah