RSS

Malu dan Imam

​Rasa malu yang lahir dari kerendahan hati adalah sifat yang sangat mulia. Darinya muncul kebersahajaan dan darinya lahir kekuatan untuk mengikis kesombongan dan keangkuhan. Tak perlu merasa hina di hadapan manusia hanya karena kita seorang pemalu sebab Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa saja adalah Zat yang pemalu.
Dari Salman Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Tuhanmu Pemalu dan Pemurah, Dia akan malu terhadap hamba-Nya bila ia mengangkat tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikannya dengan tangan kosong.” (Riwayat Imam Empat selain Nasa’i. Hadits shahih menurut Hakim).
Ketika bicara soal sifat Tuhan, jangan kita membayangkan ekspresi sifat itu seperti eskpresi mahluk-Nya. Ya, karena Dia adalah “Laisa kamislihi syai’un” (tidak ada sesuatupun yang menyerupai/sama dengan Nya). Namun penyebutan sifat dengan kata yang identik dengan mahlukNya kita maknai sebagai ‘motivasi’ agar mahluk tersebut (kita manusia) memelihara sifat mulia itu. 
Rasa malu yang kita aplikasikan dalan bentuk kerendahan hati dan kelembutan budi pekerti adalah rasa malu yang merupakan cerminan keimanan. Ia memancar sebagai perhiasan yang indah dalam kehidupan seorang hamba Allah. 
“Malu itu bagian dari Iman.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Sahabat yang budiman, semoga kita selalu dianugerahi oleh Allah kelembutan budi pekerti kesantunan kata-kata, dan kerendah hatian sikap yang lahir dari aqidah Tauhid yang kokoh. Dan semoga hal itu melekat erat dalam jiwa dan raga kita, hingga akhir hayat… Aamiin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Desember 2016 in Nashihat

 

Semua Bid’ah Sesat?

Kalangan yang menolak adanya bid’ah hasanah selalu berdalih dengan hadits Nabi yang menyatakan “Sesungguhnya semua hal baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu masuk dalam neraka.”

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Oktober 2016 in Nashihat

 

Masalah Ushul dan Furu

BANYAK terjadi perpecahan di kalangan kita dikarenakan ketidaktahuan membedakan antara perkara ushul dan furu’. Akibatnya begitu mudah menyesatkan dan membid’ahkan. Ini tentunya bisa membawa perpecahan umat dan menimbulkan fitnah yang keji. Oleh karenanya kita kaum Aswaja hendaknya memahami persoalan ini, agar tidak ikut-ikutan bersikap seperti kelompok lain yang gemar mengobral celaan terhadap orang di luar madzhab/kelompoknya.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 September 2016 in Fiqih Syari'ah