RSS

Malu dan Imam

12 Des

​Rasa malu yang lahir dari kerendahan hati adalah sifat yang sangat mulia. Darinya muncul kebersahajaan dan darinya lahir kekuatan untuk mengikis kesombongan dan keangkuhan. Tak perlu merasa hina di hadapan manusia hanya karena kita seorang pemalu sebab Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa saja adalah Zat yang pemalu.
Dari Salman Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Tuhanmu Pemalu dan Pemurah, Dia akan malu terhadap hamba-Nya bila ia mengangkat tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikannya dengan tangan kosong.” (Riwayat Imam Empat selain Nasa’i. Hadits shahih menurut Hakim).
Ketika bicara soal sifat Tuhan, jangan kita membayangkan ekspresi sifat itu seperti eskpresi mahluk-Nya. Ya, karena Dia adalah “Laisa kamislihi syai’un” (tidak ada sesuatupun yang menyerupai/sama dengan Nya). Namun penyebutan sifat dengan kata yang identik dengan mahlukNya kita maknai sebagai ‘motivasi’ agar mahluk tersebut (kita manusia) memelihara sifat mulia itu. 
Rasa malu yang kita aplikasikan dalan bentuk kerendahan hati dan kelembutan budi pekerti adalah rasa malu yang merupakan cerminan keimanan. Ia memancar sebagai perhiasan yang indah dalam kehidupan seorang hamba Allah. 
“Malu itu bagian dari Iman.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Sahabat yang budiman, semoga kita selalu dianugerahi oleh Allah kelembutan budi pekerti kesantunan kata-kata, dan kerendah hatian sikap yang lahir dari aqidah Tauhid yang kokoh. Dan semoga hal itu melekat erat dalam jiwa dan raga kita, hingga akhir hayat… Aamiin

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Desember 2016 in Nashihat

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: